Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel untuk mendukung pembiayaan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Jumlah anggota panel tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan proyek dan kebutuhan pembiayaan. Salah satu hasil utama pembentukan panel ini adalah minat pembiayaan indikatif yang mencapai lebih dari tiga kali lipat estimasi kebutuhan utang program PSEL.

Lenders panel merupakan kelompok calon pemberi pinjaman dan mitra pembiayaan yang dibentuk untuk mendukung pembiayaan proyek-proyek PSEL yang dikembangkan DIM melalui Denera.

Managing Director Investment DIM, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengatakan program tersebut dijalankan dalam rangka melaksanakan mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Melalui panel ini, DIM dan Denera memetakan minat serta kapasitas pembiayaan institusi keuangan, baik untuk portofolio proyek secara keseluruhan maupun proyek individual, sebelum memasuki proses pembiayaan formal.

Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menjajaki struktur pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan proyek, mulai dari jenis dan tenor pinjaman, fasilitas nontunai, hingga solusi pembiayaan lainnya.

Minat pembiayaan indikatif yang mencapai lebih dari tiga kali lipat estimasi kebutuhan utang mencerminkan tingginya ketertarikan institusi keuangan domestik dan internasional terhadap peluang pembiayaan program PSEL.

Meski demikian, nilai indikatif tersebut masih berupa gambaran awal mengenai minat dan kapasitas pendanaan. Setiap rencana pembiayaan tetap harus melalui evaluasi dan persetujuan kredit sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Stefanus mengatakan, penetapan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel menjadi pencapaian penting dalam mempersiapkan pembiayaan program PSEL.

“Penetapan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel merupakan pencapaian penting dalam menyiapkan pembiayaan program PSEL,” ujar Stefanus dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (18/10).

Ia mengatakan, minat pembiayaan indikatif yang mencapai lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang menunjukkan besarnya potensi dukungan dari pasar pembiayaan.

“Melalui panel ini, kami dapat memetakan kapasitas dan minat calon pemberi pinjaman untuk menjajaki struktur pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing proyek,” ujarnya.

Sebanyak 34 anggota lenders panel tersebut mencakup institusi pembiayaan proyek internasional yang berpengalaman dalam pembiayaan lintas negara, bank pembangunan multilateral, lembaga pembiayaan pembangunan bilateral, lembaga pembiayaan infrastruktur, serta pengelola dana iklim.

Panel ini juga melibatkan bank-bank besar dalam negeri, termasuk bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan bank umum swasta nasional. Selain itu, terdapat bank internasional yang beroperasi di Indonesia serta bank syariah.

Chief Financial Officer Denera M. Ramadhan Harahap mengapresiasi seluruh institusi keuangan yang telah terpilih sebagai anggota lenders panel.

Dia berharap kolaborasi tersebut dapat mendukung kelancaran persiapan pembiayaan proyek PSEL.

“Kami mengapresiasi partisipasi dan kepercayaan institusi keuangan yang telah bergabung dalam lenders panel PSEL Denera. Kami berharap kolaborasi ini dapat terbangun dengan baik dan menjadi fondasi bagi kerja sama yang produktif dalam mendukung pengembangan proyek-proyek PSEL kami,” ujar Ramadhan.

Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menegaskan persiapan pembiayaan program PSEL dilakukan dengan mengedepankan tata kelola yang baik dan prinsip kehati-hatian.

“Besarnya minat pembiayaan merupakan perkembangan positif, tetapi kesiapan pembiayaan tidak hanya diukur dari besarnya minat yang diterima. Setiap komitmen pembiayaan tentunya tetap melalui prosedur due diligence (uji tuntas) dan persetujuan komite di masing-masing institusi pembiayaan tersebut. Kami memastikan proses ini berjalan dengan mengedepankan tata kelola yang baik, transparansi, dan akuntabilitas,” ujar Pandu.

By jkeck

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *