Sering kali cara orang tua mengasuh anak-anak dipengaruhi oleh cara mereka dibesarkan.
Namun, bukan berarti meniru secara persis. Mereka mungkin mempertahankan hal-hal yang mereka hargai, menolak hal-hal yang menyakiti, serta menyesuaikan dengan dunia tempat anak-anak tumbuh.
Melalui berbagai pendekatan, mulai dari rasa hormat, kemandirian, sampai teknologi, dilansir dari yourtango pada Kamis (10/9), begini pandangan Generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z tentang pola asuh yang baik.
Generasi Baby Boomer
Mereka meyakini bahwa pola asuh yang baik berarti mengajarkan sikap hormat sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk menjadi mandiri.
Mungkin, karena mayoritas dari generasi yang terlahir tahun 1946 – 1964 dibesarkan oleh orang tua yang hidupnya ditempa oleh pengalaman serta masa depresi besar, seperti paska Perang Dunia II.
Jadi, sebagian keluarga sangat menekankan pentingnya aturan, disiplin, dan penghormatan terhadap otoritas.
Mereka juga tumbuh besar dengan beragam aturan serta batasan mengenai apa yang boleh dilakukan.
Orang tua yang berasal dari Generasi Baby Boomer pun sangat menekankan pentingnya sikap hormat, karena orang dewasa yang tumbuh pada masa itu mungkin sudah terbiasa dengan hirarki yang jelas dan ekspektasi yang ketat. Pola ini sering kali terbawa ke dalam kehidupan keluarga yang membuat sebagian generasi Baby Boomer tumbuh dengan keyakinan bahwa anak harus menghormati orang tua, guru, atasan, dan sosok pemegang otoritas lainnya. Tapi, metode pengasuhan seperti itu banyak yang sudah tidak efektif lagi di dunia modern ini.
Itu sebabnya, orang tua Baby Boomer tetap menekankan sikap hormat saat membesarkan anak-anaknya yang berasal dari Generasi X, namun tidak sekaku sebelumnya.
Mereka tetap menerapkan aturan, tapi juga memberikan kebebasan yang lebih longgar kepada anak-anaknya.
Sering kali mereka membiarkan anak-anak bermain di lingkungan sekitar bersama teman-temannya alih-alih mengawasinya secara ketat dan terus-menerus.
Generasi X (Gen X)
Generasi antara tahun 1965 – 1980 meyakini bahwa pola asuh yang baik berarti mendorong individualitas tanpa terlalu bergantung pada teknologi.
Banyak dari mereka memiliki kenangan masa kecil saat bersepeda, menjelajahi lingkungan sekitar, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman tanpa pengawasan orang dewasa secara terus-menerus.
Masa-masa kecil yang indah, bebas berkeliling dan bereksplorasi bersama teman-teman, sering kali membuat Gen X ingin memberikan pengalaman serupa kepada anak-anaknya. Kebebasan untuk bereksplorasi secara mandiri membentuk Gen X tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan mampu mengandalkan diri sendiri.
Mereka jadi bebas memilih jalan hidup yang diinginkan.
Kualitas-kualitas tersebut yang Gen X harapkan ada pada diri sang anak kelak. Pengalaman dari masa lalu itu juga menginspirasi banyak orang tua Gen X untuk memberikan kebebasan kepada anak-anak mereka supaya dapat lebih memahami jati diri dan keunikan diri sendiri.
Generasi Milenial
Orang-orang yang lahir di tahun 1981 – 1996 meyakini bahwa pola asuh yang baik berarti membekali anak dengan kemampuan teknologi sembari tetap menjaga kedekatan dan melindunginya.
Generasi Milenial tumbuh di masa ketika ponsel menjadi semakin kecil, mudah, dan umum digunakan.
Memiliki ponsel merupakan momen yang menyenangkan dalam hidup mereka.
Kebanyakan orang tua yang berasal dari generasi ini menganggap pemberian ponsel kepada anak adalah hal yang praktis, bukan sesuatu yang tidak lazim.
Mereka sadar kalau anak-anak mereka tumbuh di era digital.
Mengingat teknologi kini hadir dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, mereka sering kali merasa perlu memberikan ponsel kepada anak-anak supaya sang anak dapat belajar cara menggunakannya.
Mereka pun cenderung memberikan kebebasan yang lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya.
Ini disebabkan sebagian orang tua Milenial merasa kurang nyaman membiarkan anak bereksplorasi tanpa pengawasan akibat kondisi lalu lintas yang semakin padat, kekhawatiran akan keselamatan, serta adanya ekspektasi bahwa orang tua harus selalu mengetahui keberadaan anak.
Jadi, mereka lebih memilih menjaga anak-anak mereka tetap aman di rumah.
Generasi Z (Gen Z)
Gen Z yang lahir tahun 1997 – 2012 meyakini bahwa pola asuh yang baik berarti mampu menetapkan batasan penggunaan teknologi yang sehat dan mendorong anak-anak menerima jati diri mereka apa adanya.
Banyak dari Gen Z tumbuh besar dengan kehadiran smartphone, media sosial, dan akses internet yang hampir selalu tersedia.
Kemudian, mereka menjalani sebagian besar masa sekolah di tengah-tengah pandemi, kelas daring, dan berkurangnya interaksi tatap muka dengan teman-teman hingga mereka merindukan interaksi sosial yang lebih banyak.
Ini yang membuat orang tua yang berasal dari Generasi Z berupaya sebisa mungkin menyeimbangkan waktu layar anak-anak mereka dengan interaksi pertemanan secara langsung dan kegiatan di luar jaringan atau offline.
Mereka menetapkan batasan yang lebih tegas supaya anak-anak mereka tidak memiliki kebiasaan sama seperti mereka, yakni terus-menerus menatap layar.
Mereka juga tumbuh di tengah perubahan sosial yang sangat signifikan sehingga berbagi identitas dan pengalaman yang dulunya jarang dibahas secara terbuka kini telah mendapatkan visibilitas dan penerimaan yang lebih luas di masyarakat.
Orang tua Gen Z mungkin mendorong anak-anak mereka untuk merangkul identitas diri sendiri sembari tetap menghargai orang-orang yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda dari mereka.